HAKIKAT DO’A DAN DZIKRULLAH


Penulis: Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy Ary

( Guru Besar MK Al Mukarramah Dan Pendiri Majlis Awrad Muslim Indonesia )


Firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Berdoalah kepadaku niscaya kuperkenankan bagimu, Dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”.

Berdoa dan dzikrullah (ingat kepada Allah) adalah sarana yang paling tepat dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Tuhan Yang Esa atas anak cucu Adam. Karena doa dan dzikir memungkinkan pengaksesan kesunyian yang tersembunyi di pusat wujud manusia. Kesunyian yang merupakan bentuk irama doa dan dzikir paling merdu, yang hanya di dengar oleh para wali-wali Allah dan merupakan sumber seluruh aktivitas serta perbuatan yang penuh arti, sekaligus menjadi sumber keberadaan dan kehidupan manusia. “ Islam menjadikan irama doa dan dzikrullah sebagai getaran dan gema dari realitas yang transenden dan sekaligus imanen”. Tuhan memerintahkan kepada manusia agar memperbanyak doa dan dzikir, untuk dapat mengenal dirinya sendiri dan kemudian mengenal Tuhannya dengan sebenar-benarnya.

Dengan bantuan doktrin dan metode spiritual, manusia akan mampu memahami siapa dirinya, dengan meninggalkan apa saja yang menyesatkan untuk dapat mengetahui hakikat dirinya. “ Doa dan dzikrullah mampu membawa manusia meraih ketentraman dan kedamaian yang tersembunyi di pusat wujudnya”, dan pencapaian dapat dilakukan oleh setiap orang pada setiap kesempatan dalam membebaskan manusia dari prahara yang menghancurkan dalam kehidupan ini dan dari kericuhan dunia eksternal, tanpa perlu meninggalkan dunia itu sendiri, karena tujuan berdoa dan berdzikir adalah membawa manusia dari dunia bentuk ke dunia ruh; namun karena dia tinggal di dunia bentuk (material) dan pada awal perjalanan spiritual tidaklah terlepas darinya, maka dengan menggunakan dunia bentuk sedemikian rupa,  mengarahkan perhatian manusia ke dunia spiritual, namun bersamaan dengan itu sekaligus juga merupakan simbol dan tangga untuk dapat mencapai persatuan dan kesatuan yang mengikat erat antara manusia dengan Tuhannya.

“Barang siapa yang telah mencapai persatuan dengan Tuhannya, maka seluruh alam ini seolah-olah dalam genggaman tangannya. Manusia dari segala dunia akan datang kepadanya bukan untuk permusuhan, melainkan untuk memberi perlindungan kepadanya”.

Dalam bahasa  kata-kata dalam doa dan dalam dzikrullah akan menjadi substansi yang menggantikan hakikat materi dunia eksternal, dan menyiratkan keselarasan kosmik. Karena  terkandung dalam kata-kata atau substansi bahasa, maka menjadi lebih membekas dan mendalam, “melalui doa dan dzikrullah akan menggema kembali keselarasan-fundamental yang memungkinkan manusia untuk kembali pada keberadaan dan kesadarannya yang lebih tinggi, dan melalui dzikrullah, manusia akan terbebas dari segala perasaan yang mengganggu hati dan pikirannya dengan hanya melalui transformasi bathin yang terjadi kapan dan dimanapun”. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

“  Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadanya diwaktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S.33 : 41-43)

Doktrin tradisional yang menyangkut  memerlukan penjelasan lebih lanjut, karena hubungan antara realitas kosmik dengan bahasa manusia telah memudar selama kurun waktu yang menilai alam secara kuantitatif dan mempelajari bahasa secara analitis belaka, dengan mengabaikan aspek kualitatif sintesispuitis. Doktrin tentang keselarasan substansi bahasa dan kata-kata dalam doa serta ucapan dzikrullah ini ditemukan pula di timur yang diungkapkan dalam polarisasi istilah yin-yang (negatif-positif), dan dalam sumber Islam pun dibedakan antara bentuk (shurah) dan makna (ma’na) seperti yang terdapat dalam inti ajaran metafisik. Penggunaan shurah dalam konteks ini dan lawan katanya yaitu ma’na, hendaknya tidak dikacaukan dengan penggunaan istilah shurah yang sama ketika dikontraskan dengan materi (maddah atau hayyula) dalam bahasa hilomorfisme yang digunakan oleh beberapa filosof Islam yang mengikuti ajaran Aristotelian. Dalam hal yang pertama, ma’na dapat disamakan dengan esensi atau prinsip dan shurah dengan segala sesuatu yang substansial, reseptif dan material , sementara dalam hal kedua shurah digunakan dalam pengertian Aristotelian dan Thomistik, sebagai unsur yang esensial dan prinsipal yang berlawanan dengan unsur material. Hal ini juga berlaku bagi bahasa manusia dalam berdoa atau berdzikir yang mewujud sebagai hasil dari imposisi ma’na pada substansi bahasa atau shurahnya. Karena pengaruh ma’na atas shurah ini meningkat, maka bentuk eksternal menjadi lebih trasparan dan dengan mudah mengungkapkan makna bathinya melalui . Menurut pandangan para ahli tafakur dan urafa ( ahli ma’rifat muslim ):

“Doa itu bagaikan kutub-kutub spiritual, yang menyala, laksana norma dan teladan -teladan yang hidup dan menjadi perhatian para pencari kebenaran dalam jiwa para pendoanya, tentang adanya lanskap alam ruh, sedangkan berdzikir ialah keyakinan ilahiah yang berasal dari karunia Tuhan dan terletak dalam inti ajaran Islam, karena dzikrullahpun merupakan sebuah kunci yang diberikan kepada manusia agar dapat menguak rahasia kehidupannya sendiri dan memperoleh harta yang terlupakan dan terabaikan karena tersembunyi didalam dirinya”.

Begitu juga dalam sudut pandang tasawuf, doa dan dzikrullah dipandang sebagai buah pengamatan dan hasil sekunder ekspresi kebenaran spiritual, dari seorang yang telah mencapai kebenaran itu, dan hidup dalam keselarasan alam yang dirasakan oleh mereka yang juga memiliki sifat selaras seperti itu (Thab’I-Mawzun). Doa dan dzikrullah dinilai sebagai visi alam spiritual dan rapsodi yang tercipta dalam diri pendoa itu sendiri karena gejolak bathinnya mengalir dalam bait-bait kata (ucapan). Kemudian bait-bait kata itu menyiratkan keselarasan universal melalui substansi bahasa, sama seperti ketika keselarasan ini mendominasi pikiran dan jiwa sang pendoa dan jiwa sang pendzikir. Dari Abu Musa Al-Asy-ari, bahwa Nabi Saw bersabda : “Perumpamaan orang yang ingat kepada Tuhannya (dzikrullah) dan yang tidak, laksana orang  yang hidup dan orang yang mati”.

Hal tersebut tepat sekali karena dapatlah dikatakan bahwa kata-kata (ucapan) yang logis dalam suatu doa dan dzikrullah mempunyai kekuatan denotasi dan konotasi, juga memiliki kekuatan sugesti dan penyadaran tentang pengetahuan intuitif yang ada dalam jiwa. Sebuah kesadaran yang dapat disamakan dengan transformasi keadaan jiwa. Maka  serupa dengan logika dalam arti sebagai sarana dan wahana untuk mengekspresikan kebenaran.  melengkapi logika untuk mencapai bentuk pengetahuan yang tidak dapat dipahami tanpa bantuan kecakapan logis manusia yang pasrah. Selain itu,  menghasilkan transformasi jiwa serta perasaan-perasaannya dalam suatu cara yang tidak mungkin dihasilkan oleh usaha logis semata.

Doa dan Dzikrullah tradisional melahirkan kesepakatan dalam jiwa manusia, sehingga wajar untuk membicarakan adanya suatu logika yang meyakinkan dan seringkali mendukung sebuah argumen di berbagai bagian dunia, ketika  mampu memelihara kualitas kimiawinya bahkan sampai sekarangpun, dan ketika jiwa orang-orang yang masih peka terhadap kekuatan sakramental dari sebuah  yang mengungkapkan kebenaran serta kemampuannya untuk merekayasa jiwa manusia.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an : “ Karena itu ingat-lah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku)”. (Q.S. 2 : 152)

Dalam doktrin timur secara umum tidak ada antagonisme antara logika  seperti yang terdapat di barat selama beberapa abad yang lalu. Logika dalam doktrin timur dipandang sebagai tangga untuk pendakian menuju dunia spiritual, dunia ma’rifat dan pencerahan metafisik, sementara doa tetap dipandang sebagai sarana untuk mengungkapkan tidak hanya perasaan-perasaan, melainkan juga pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang mendasar. Hal ini terbukti terutama dalam peradaban Islam yang beranggapan bukan salah satu dari dua alternatif antara logika doa dan spiritualitas dzikrullah yang harus diambil. Bahkan jika kritisisme tertentu telah menciptakan logika atas nama cinta Ilahi (isyq), hal itu bertujuan untuk mencegah agar logika tidak sekadar menjadi batasan melainkan pendukung dan juga menghindarkan pengetahuan sebagai sesuatu yang bersifat teoritis semata, melainkan menjadi buah yang mengundang selera yang dicerna dan membantu proses transformasi seseorang.

Pada akhirnya satu-satunya hal mendasar yang dimiliki logika doa dan juga dzikrullah, sebagaimana paham tradisional, adalah gnosis (ma’rifah) yang terletak pada inti tradisi timur. Karena realitas merupakan sumber dari hal yang logis dan sekaligus hal puitis, maka gnosis atau metafisika tradisional yang mengandung pengetahuan tentang realitas, tidak boleh menjadi dasar bersama yang memungkinkan  serta logika bertemu dan menjadi sarana bagi kebenaran untuk mengungkapkan dirinya dalam epifani-epifani yang logis sekaligus puitis, seperti alam yang murni, sehingga teofani agung Yang Maha Benar lainnya juga memiliki logika  sendiri-hukumnya sendiri yang tak dapat disangsikan lagi dan keselarasannya sendiri yang akan menginteriorisasi BATHIN SANG PENDO’A DAN BATHIN SANG PENDZIKIR. Perpaduan antara logika  yang tampak sangat jelas dalam kaidah Islam, tidak dapat terjadi kecuali melalui penemuan kembali gnosis atau metafisika yang selalu ada dan akan ada, yang hanya dapat dijangkau oleh mereka yang mampu menerima pesan-pesan langit  yang secara langsung melambangkan hakikat realitas penerbangan dan pendakian melawan seluruh hal yang merendahkan derajat serta menurunkan kekuatan dunia ini, yang akhirnya mengantar kepada kebebasan dari kungkungan duniawi yang serba terbatas.

Sesungguhnya bagi seorang pendoa sejati dan pendzikir sejati hal ini sudah merupakan aspek atau kecenderungan jiwa individual dalam mempersiapkan diri untuk penerbangan menuju pegunungan kosmik (Qaf) yang melambangkan esensi Tuhan yang berada diluar pemberian makhluk maupun Tuhan sebagai pencipta dan prinsip pengejawantahan. Titik di puncak pegunungan Qaf merupakan permukaan langit yang tidak terhingga luasnya dan sekaligus prinsip generasi dari seluruh pegunungan kosmik yang ada di bawahnya. dan menjelma menjadi tujuh buah lembah yang akan membawa seorang pendoa sejati dan pendzikir sejati menuju puncak kehampaan-keheningan dalam pencarian (Thalab)-cinta (‘isyq)-gnosis (ma’rifah)-kepuasan hati (istighna)-keESa-an (tauhid)-kekaguman (hayrat) dan kemiskinan (faqr). yang pada akhirnya lebur (fana) dalam keterpesonaan menyaksikan API CINTA ILAHI yang menuju pemahaman tentang keEsaan, yang pada tingkat paling tinggi tiada lain adalah kesatuan wujud (wahdat al-wujud), suatu pemahaman yang tidak dapat diperoleh begitu saja melainkan harus melintasi rintangan-rintangan perjalanan kosmik, menyeberangi jembatan peleburan dan mencapai penglihatan cahaya diantara cahaya yang menyerap dan mensucikan, serta menyilaukan pandangan mata dalam bentuk keindahan yang tiada tara. Melalui kresendo rafsodis sang pendoa dan pendzikir sejati berhasil mengungkapkan pujiannya kepada Yang Maha Pencipta.  Bahwa  Tuhan telah menggoreskan keindahan atas segala sesuatu. Sesungguhnya hati nurani setiap orang merindukan cahaya, yang merupakan simbol kehadiran Tuhan. Islam menjadikan doa dan dzikrullah sebagai tangga untuk menuju hadirat Tuhan, yang merupakan cahaya surgawi, dan menyatukan kenikmatan inderawi dengan kepertapaan sebuah dunia lain dengan keindahan disini dan kini. Islampun menjadikan doa sebagai getaran dan gema dari realitas yang transenden dan sekaligus imanen.

MANUSIA HARUS KEMBALI KE FITRAHNYA

Fitrah = Instink beragama, yang di sebut naluri yaitu unsur yang mengandung: cita, hasrat, kehendak dan keinginan kepada segala sesuatu yang adil, yang baik lagi benar serta di sukai Allah Swt. Ia menduduki tingkat atau derajat termulia dalam diri manusia. Sebab ruh sudah menjadi saksi tentang Allah, maka setiap diri manusia mempunyai suatu keinginan berkeTuhanan atau beragama. Fitrah adalah nafsu yang suci, bekerjasama dengan akal dan hati nurani. Ia, nafsu yang diberi rahmat oleh Allah Yang Maha Suci. Orang berkeinginan untuk makan hanya apa yang di halalkan oleh Allah – akan mengambil haq miliknya saja – melampiaskan syahwat hanya kepada orang yang dihalalkan Allah – dan berbuat sesuai dengan petunjuk Allah. Jadi hidup menjurus kepada Taqwa. Sebenarnya fitrah itupun mempunyai indera : Hati dapat melihat apa yang tidak bisa dicapai oleh mata jasad, sanggup mendengar apa yang tak dapat dijangkau oleh telinga jasad, perasaan belum terasa lega dan puas sebelum mengerjakan tuntunan Nabi Allah. Cita-cita, keinginan dan kemauan belum dirasa tercapai sebelum ditegakkannya kebaikan, kebenaran, keadilan dan kejujuran sesuai perintah Allah.  Seluruh jiwa dan raganya baru akan merasa lega, puas lagi senang dan tenteram setiap kali selesai berbuat amal shalih.

Adapun ciri-ciri lain yang dilahirkan oleh fitrah yaitu : kemauan baik, yang tidak disadari maupun yang disadari secara insting (perasaan). Ia selalu mencari selamat, tenteram dan sejahtera serta senang lagi bahagia. Fitrah akan sangat kelihatan dalam menonjolkan diri, terutama pada saat seseorang kehabisan DAYA UPAYA, kehabisan akal. Perasaan takut yang teramat sangat bagi keselamatan jiwa, kesenangan raga yang terancam bahaya. Pada saat-saat demikian, maka terdengarlah dari mulut manusia : “YA TUHAN TOLONGLAH KAMI…!” BANTULAH KAMI…!. Fitrah akan menonjolkan diri selama tidak dijajah oleh hawa nafsu dan tidak ditutupi dengan dogma yang disebut taqlid buta, yaitu ikut membabi buta tanpa turut serta pertimbangan akal sehat dan kitab petunjuk yang baik lagi benar. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

“Dan apabila KAMI berikan ni’mat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dari petunjuk), tetapi jika ditimpa malapetaka, dia banyak berdoa kepada Tuhan dengan panjang lebar. (Q.S. 41 : 51)

” Apabila manusia ditimpa bahaya ,dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia kembali melalui jalan sesat lagi murka, seolah-olah dia belum pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu, mamandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”. (Q.S. 10 : 12)

Kita yakin dan percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa-lah yang menjadikan. Bukan Dia yang dijadikan, dengan kata lain Dia pasti turut serta memainkan peranan didalam setiap kehidupan manusia. sebab dengan rahmat dan karunia serta dengan seijin Dia-lah kita hidup atau mati, merdeka atau terjajah. Maka jika ada kejadian buruk seperti : “Bencana, malapetaka, tragedi atau bahla baik ia menimpa diri pribadi atau keluarga, maupun yang menimpa nasional atau internasional harus senantiasa dihubung-hubungkan dengan tingkah laku atau adab manusia terhadap Allah. Lalu penilaian kita tentang musibah itu adalah semata-mata sebagai peringatan Allah Yang Esa, yang merupakan suatu cobaan, agar manusia-manusia beriman memenuhi kewajibannya terhadap Allah SWT. Dan bagi orang-orang yang tidak beriman agar bersegera mungkin membenahi diri dan kembali kepada yang Haq, sesuai dengan fitrahnya untuk apa sebenarnya ia diciptakan ?! jika kita lihat firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyebutkan : “Tidaklah AKU ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”. Tapi jika kita lihat saat sekarang ini manusia berlomba-lomba untuk meraih sesuatu yang sifatnya untuk mengeruk keuntungan pribadi dengan berbagai cara yang tidak dibenarkan oleh hukum Islam dengan falsafah : “Biarkan orang lain menderita yang penting aku bahagia, dan biarkan orang lain celaka yang penting aku selamat”.  Orang-orang yang berprinsip seperti inilah  cepat atau lambat akan membuat murka Tuhan, karena mereka telah lalai dari hidup dan kehidupannya yang pada akhirnya menimbulkan gejolak hasrat hati yang melampaui batas. Orang-orang bijak mengatakan : “Tidak ada bencana yang teramat besar, selain daripada nafsu keinginan yang tak terkendali”.

Jadi jelas sudah bahwa bukan hanya unsur-unsur kebendaan atau sikap rasional saja yang menyebabkan timbulnya rasa kurang dan gelisah tetapi, faktor ketiadaan iman atau pegangan jiwalah yang sebenarnya menjadi penyebab utama seseorang hampir selalu dapat dikalahkan. Nabi Muhammad SAW telah berhasil dengan gilang-gemilang memimpin manusia di zamannya, karena atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa ia mendapat petunjuk bahwa kebutuhan jasmani dan rohani harus sama-sama diperhatikan bahkan kepada tuntunan agama sebaiknya perhatian lebih banyak dicurahkan. Maka sudah sepantasnyalah manusia senantiasa berlomba untuk menaikan mutu ilmu agama dan laku perbuatan, agar terbukti bahwa dirinya adalah khalifah, disamping sebagai insan hamba Allah, amal perbuatan apakah yang pantas diwariskan pada generasi penerus.

Kaum ulama dan imam-imam rohani berkata bahwa : “Kalau kita berbuat sesuatu dengan hidayah Allah, berarti setiap laku perbuatan harus dikaitkan dengan iman. Maka isilah hidup yang sebenarnya amat singkat ini dengan ibadah”. Kitalah yang beruntung, karena memperoleh dua bagian dari karunia Allah, yaitu  kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta warisan yang bernilai tinggi bagi generasi ummat. Tetapi bila kita berbuat di karenakan hanya mengharapkan keuntungan duniawi saja, berarti setiap laku perbuatan tanpa diiringi iman niscaya kerugianlah yang akan didapat, sebab hanya memperoleh satu bagian saja dari karunia illahi, pahala tak mungkin didapati, karena ketiadaan iman atau keliru dalam itikad tentang keESaan Allah dan hari kiamat. Nabi Muhammad SAW. bersabda : “Sesungguhnya setiap perbuatan itu diawali dengan niat, Dan sesungguhnya setiap laku perbuatan seseorang itu tergantung dari apa yang diniatkannya”.  Allah berfirman kepada Nabi :

“Diantara mereka (manusia) ada orang yang mendoa : Ya Tuhan Kami, berilah kami  kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka. Orang-orang itulah yang akan memperoleh bagian dari apa yang diusahakannya. dan Allah sangat cepat perhitungannya”. (Q.S. Al-Baqarah : 201-202)

MANUSIA DALAM TIGA FUNGSI

  1. MANUSIA BERFUNGSI SEBAGAI INSAN MAKHLUK ALLAH. Ia makan – minum dan beranak pinak sebagai mana makhluk-makhluk Allah yang lain.
  2. MANUSIA BERFUNGSI SEBAGAI INSAN KHALIFAH ALLAH. Ia harus banting tulang – kerja keras – harus mau mengolah dan mengatur dunia berikut seluruh isinya, lalu mengambil beberapa manfaat dengan seijin Allah pula.
  3. MANUSIA BERFUNGSI SEBAGAI INSAN HAMBA ALLAH. Ia harus mau menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah dengan jalan mengikuti atau mentaati didikan Nabi.

Ketiga fungsi manusia tersebut jika dilaksanakan dengan sepenuh hati, dan ridho akan semuanya itu . maka hal inilah yang dapat menjadi sarana untuk mengingatkan kembali manusia akan kedamaian, ketenangan, dan kegembiraan melalui apa yang dia cipta dan yang dia cari sepanjang masa. Disadari atau tidak disadari, yang hanya bisa dia dapatkan apabila mencapai suatu kesadaran tertentu tentang kesucian dan sepakat bahwa dia harus menyerahkan dirinya kepada kehendak Yang Maha Kuasa. Nabi dipilih oleh Tuhan dan wewenang spiritual syaikh juga diberikan darinya. Tampa persetujuan tentang wewenang yang dilakukan manusia sebagai perwujudan logos itu sendiri, tidaklah mungkin ada fungsi inisiatik dan wewenang sejati semacam itu. Banyak diantara manusia lainnya yang mengadu kepada Tuhannya mengenai rintangan-rintangan yang ada dijalan dan ketidak pastiannya dalam mencapai tujuan akhir dari kehidupan.

Dalam kondisi seperti inilah seseorang itu harus berusaha menghilangkan dari hati dan pikiran “AGAR TIDAK BERBURUK SANGKA KEPADA TUHAN”.  Karena bukankah tujuannya adalah Yang Maha Benar, sungguhpun seseorang itu harus meninggal (wafat) ditengah-tengah perjalanannya Ia akan tetap berarti. Dan mengenal semua kesulitan yang ada, hal itu menunjukan kenyataan bahwa : “Akar jiwa tenggelam dalam dunia keserbaragaman makhluk, dan bahwa manusia selalu dibuyarkan dan dialihkan oleh berbagai benda untuk mampu memusatkan pikiran jiwanya kepada sang pencipta. Maka berhati-hatilah dari bahaya kesombongan yang disebabkan oleh pembenaran diri dalam kehidupan dan berbagai unsur lain dari jalan spiritual”. Baik-buruk dan salah-benar jika kita lihat melalui kacamata bathin dan ditunjang oleh kejujuran hati, maka hal itu semua tidak terlepas dari masalah untung dan rugi, sehingga dalam hidup dan kehidupan ini terkesan berbisnis antara manusia dengan manusia lainnya.

“Tinggalkanlah apa yang diragukan dan kerjakanlah apa yang tidak diragukan , sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan keresahan” (Al-Hadits).

Sumber : www.lismansd.rimbawan.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: