HIJAB HIQMAH AL QUR’AN


Penulis : Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ ari

( Guru Besar MK Al Mukarramah dan Pendiri Majlis Awrad Muslim Indonesia )


Hiqmah Al-Qur’an atau kearifan (keadilan) adalah  suatu keseimbangan sempurna antara Ilmu dan Amal yang terhijab atau bertiraikan kabut vertikalitas, karena hijab itu sendiri merupakan sesuatu yang tersembunyi antara diri manusia dengan Al’Zat (Allah), walaupun dikatakan di dalam Al-Qur’an bahwa

Artinya :

“ Dan Kami lebih dekat dari urat lehernya”(QS. 50 : 16).

Hiqmah Al-Qur’an akan selalu tertutupi oleh Hijab Al-Izzah (tirai keAgungan) yang akan menyebabkan sang pecinta menjadi buta dan bingung karena menyembunyikan esensi yang berada diluar jangkauan segala sesuatu kecuali diri-Nya sendiri, karena tirai ini memiliki Haybah (ketakjuban), yang penuh dalam diri sang hamba ketika dihadapkan pada kemutlakan Allah semata.

Tirai (hijab) Al-Izzah di dalam hiqmah Al-Qur’an ini tidak lain adalah  Hakikat Nabi Muhammad SAW. Hiqmah Al-Qur’an sangat berkaitan erat dengan keadilan (adl) dan memiliki makna  menempatkan segala sesuatu pada tempat semestinya dengan melakukan suatu perbuatan atau berbuat sesuatu sesuai dengan waktunya. Oleh karena itu, kidung-kidung keAgungan Yang Maha Esa akan menuntun sang hamba (Abd) memuji Nabi Saw sebagai manusia sempurna, logos, makhluk Tuhan pertama, tempat DIA mengkontemplasikan seluruh ciptaan-Nya dan memberlakukan seluruh peraturan-peraturan-Nya.

Hal ini memungkinkan “sang hamba (Abd)” mencurahkan diri sepenuhnya dalam mempelajari dan memahami Hijab Hiqmah Al-Qur’an yang sebenarnya bersembunyi di semesta alam dan di diri manusia itu sendiri, juga memastikan Nabi Saw yang berperan sebagai Al-Huda (penunjuk jalan) sama sekali bukanlah seorang ahli bid’ah melainkan seorang yang telah melakukan perjalanan menuju ke Yang Maha Esa. Satu-satunya perjalanan yang pantas dilakukan dalam kehidupan yang fana ini”.

“Hijab Hiqmah Al-Qur’an adalah suatu bentuk lahiriah yang tersurat (shurah) dari sesuatu yang menutupi makna batiniah yang tersirat dari Al-Qur’an itu sendiri (ma’na)”.

(Sayyid Faridhal Attros Al-Kindhy Al-Asy’Ari)

Dalam tahap-tahap awal perjalanan manusia menuju sumber spiritualnya maka ia akan bertindak sebagai penempuh jalan spiritual (salik) yang terhijab oleh aspek lahiriah eksistensi dari aspek batiniahnya.

Dan ini merupakan suatu perjalanan spiritual yang mengandung kebenaran metafisik terdalam sekaligus menghasilkan buah dari pohon makrifat, sebuah perjalanan yang titik omeganya terkandung didalam alpa efik mistiknya.

Dalam tahap-tahap pertengahan yang didominasi oleh kemabukan spiritual (sukr), dia akan terhijab oleh aspek-aspek batiniahnya dari aspek lahiriahnya, sehingga “saki abadi” akan menetes jatuh ke bumi yang menyebabkan seluruh penduduk bumi berada dalam keadaan agitasi dan ekstase dalam memandang suatu keindahan yang telah terlepas dari hijab dan kungkungan duniawi yang serba terbatas.

Kemabukan spiritual (sukr) dalam tahap pertengahan ini telah menyiratkan gambaran yang sangat mendalam dan halus mengenai berbagai pertanyaan yang dihadapi oleh penduduk bumi yang benar-benar menempuh jalan spiritual dengan mendominasi “sukr” (kemabukan spiritual). Untuk menggali suatu hiqmah yang tersirat di dalam kitab suci Al-Qur’an diatas jalan realisasi spiritual.

Dalam tahap terakhir, ketika ketakmabukan spiritual (sahw) menguasai, maka aspek-aspek batiniah maupun lahiriah tidak manabiri dirinya dari kehadiran Tuhan yang dilihatnya dimana-mana.

Dalam tahapan ini sang penempuh jalan spiritual telah diberi kesempatan untuk mengungkapkan dirinya dalam selubung cahaya hiqmah Al-Qur’an sehingga menghasilkan transformasi jiwa serta perasaan-perasaannya dalam suatu cara yang tidak mungkin dihasilkan oleh usaha logis semata.

“Para penempuh jalan spiritual (salik) ini dirinya akan merasa terheran (hayrah) dan kagum, karena telah menemukan Tuhan yang telah lama bersemayam diqalbunya sendiri “.

(Sayyid Faridhal Attros Al-Kindhy Al-Asy’Ari)

Dalam menemukan Tuhan Yang Maha Agung, merekapun menyadari dan mengetahui bahwa DIA Maha Gaib dan tidak dapat dilihat (diketahui). Namun setiap saat mereka selalu dibukakan hijab pada pengetahuan baru tentang Allah Ta’ala. Ketika keselarasan (tanasub) ini mendominasi pikiran dan jiwa penempuh jalan spiritual (salik) didalam Al-Qur’an sendiri telah dikatakan :

Artinya :

“DIA tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang DIA dapat melihat segala yang kelihatan, dan DIA-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui “. (QS. 6 : 103)

Para penempuh jalan spiritual (salik) akan merindukan asal mereka dikediaman surgawi karena jiwa mereka memiliki saya  p betapapun rapuhnya untuk dapat terbang menuju hadirat Tuhan.

Kehidupan (hayah), para salik ini adalah pertumbuhan dan perkembangan jiwa mereka yang menempuh perjalanan dari kegelapan menuju cahaya, dari kejahilan menuju pengetahuan, dan dari kematian menuju kehidupan (hayah).

Ini berarti merupakan keutamaan pengalaman spiritual dan mistikal sang persatuan bagi para penempuh jalan spiritual, yang sesungguhnya merupakan satu-satunya perjalanan, dan akhirnya terbukalah hijab antara yang dzahir dan yang batin (yang tersurat maupun yang tersirat) dari Hiqmah Al-Qur’an, dan akhirnya mencapai tujuan yang mereka inginkan walau dengan berbagai penderitaan serta ketakberdayaan pengembaraannya telah diselamatkan semata-mata oleh karunia dan kasih ilahi rabbi.

Dan akhir dari perjalanan spiritual para salik mampu memasuki istana sang raja surgawi dengan melintasi bagian luar tingkatan inisiatik paling tinggi yang memungkinkan diri mereka lebur dan muncul dalam subsistensi diri.

Dan dengan cara pandang mereka (para salik) dari akibat telah dapat membuka Hijab Hiqmah Al-Qur’an mereka tidak hanya menikmati keindahan kehadiran-Nya, tetapi juga melihat diri mereka sendiri sebagaimana adanya, yang terpantul dalam diri yang tak lain adalah diri dari setiap diri.

“Dari setiap diri para salik yang telah dapat membuka Hijab Hiqmah Al-Qur’an akan memiliki suatu keyakinan yang hakiki (Haqq Al-Yaqqin)”.

(Sayyid Faridhal Attros Al-Kindhy Al-Asy’Ari)

Keyakinan Hakiki terdiri dari tiga tahapan,

1.       Ilm Al-Yaqin (ilmu keyakinan),

2.       Ayn Al-Yaqin (penyaksian keyakinan), dan

3.       Haqq Al-Yaqin (keyakinan yang hakiki).

Penerimaan akan rumusan suci dari ketiga tahapan, keyakinan para penempuh jalan spiritual (salik) ini, bergantung dari kewibawaan spiritual para salik itu sendiri  yang dalam hal ini dapat terjadi ketika dipraktikan dalam kondisi tradisional yang kental dan keselarasan (tanasub) serta irama qalbu yang mengiringinya.

“Sesungguhnya sebuah keyakinan akan dapat dipandang sebagai suatu perpanjangan praktik spiritual yang fundamental jika keyakinan itu sendiri tidak  terlepas dari Al’fitrah yang hakiki pula.”

(Sayyid Faridhal Attros Al-Kindhy Al-Asy’Ari)

Oleh karenanya dengan tinjauan tiga tahapan keyakinan ini, maka keyakinan hakiki bisa diibaratkan seperti terbakar habis oleh api yang menyala setelah melewati dua tahapan sebelumnya, yakni  Ilm Al-Yaqin (hanya mendengar gambaran tentang api) dan Ayn Al-Yaqin (benar-benar melihat nyalanya api).

Haqq Al-Yaqin (keyakinan yang hakiki) merupakan tahapan terakhir dalam kenaikan (mi’raj) menuju Tuhan Yang Maha Agung sebelum mencapai hijab yang membuka hiqmah Al-Qur’an – Al-Kariim dan sebelum mencapai Islam yang Hakiki.

Beberapa tingkatan Hijab Hiqmah Al-Qur’an

Tingkatan – tingkatan Hijab Hiqmah dalam Al-Qur’an merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kandungan isi Al-Qur’an, sehingga memantulkan pencerminan suatu hubungan dengan dimensi esoteris dan spiritualitas Islam dalam membentuk sebuah lingkungan Islami dengan prinsip – prinsip religius dan spiritual yang tertanam pada materi, yang mengelilingi manusia dalam kehidupan kesehariannya, serta mempunyai pengaruh yang sangat mendalam pada sikap pikiran dan jiwa kaum muslim.

Disamping Hijab Al-Izzah (Tirai KeAgungan), sebenarnya masih banyak lagi Hijab – Hijab lainnya yang selalu melingkupi dan menaungi bathin dari kitab suci Al-Qur’an. Seperti : Hijab Al-Ghayrah (Tirai Kecemburuan), dimana kecemburuan seorang hamba (abd) diarahkan untuk melampaui batas kemanusiaannya (Al-Fithrah) dalam mengungkapkan rahasia – rahasia lahiriah dan bathiniah Al-Qur’an, untuk mencapai kebenaran yang Hakiki dalam pemahamannya akan kesucian Al-Qur’an itu sendiri.

Dengan demikian, Sang Hamba (Abd) akan selalu berusaha melakukan sanggahan – sanggahan terhadap pemikiran orang – orang yang meragukan atau mengingkari keberadaan dan kemurnian Al-Qur’an, yang langsung diturunkan oleh Yang Esa kepada Muhammad Rasulullah SAW melalui perantara Malaikat Jibril AS. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

Artinya :

“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Qur’an itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Qur’an. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Qur’an itu. Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.” Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini, dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipat gandakan kepada mereka. Mereka selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihat(nya). Mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka ada-adakan. Pasti mereka itu di akhirat menjadi orang-orang yang paling merugi.” (QS. 11 : 17 s.d 22)

Manifestasi dari nama – nama Allah merupakan bagian dari pengetahuan Allah Ta’ala sendiri. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan, bahwa segala yang mawjud akan selalu merefleksikan nama – nama Allah, baik itu disadari maupun tidak disadari oleh seorang Hamba (Abd). Dalam tingkatan ini, ia akan mencapai suatu kesadaran tertentu tentang kesucian Al-Qur’an, yang ketika dibaca akan membantu dirinya dalam melakukan hakikat realitas penerbangan dan pendakian untuk melawan seluruh hal yang merendahkan derajat serta menurunkan kekuatan dunia ini.

Sehingga memungkinkan diri Sang Hamba (Abd) mendapatkan dinding – dinding spiritual pada setiap kali ia membaca kitab suci Al-Qur’an, yang akhirnya mengantar dirinya pada kebebasan dari kungkungan duniawi yang serba terbatas dan fana itu, juga memastikan bahwa Sang Hamba (Abd) sama sekali bukan seorang ahli bid’ah, melainkan seorang yang telah berhasil melakukan pendekatan kepada yang Maha Esa. Dan ini merupakan satu – satunya pendekatan yang pantas dilakukan dalam kehidupan yang fana ini. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 17 : 45 s.d. 48)

Hijab Hiqmah Al-Qur’an tingkat 5 adalah Hijab Al-Aql, yakni Tirai Intelektual (penalaran). Pada tingkatan ini seorang Hamba (Abd) akan memiliki kemampuan untuk mengekspresikan kesempurnaan dan keragaman esistensi manusia sebagai cara untuk mengungkapkan  tahap – tahap akhir dalam kenaikan (mi’rajnya) menuju Allah SWT  melalui pemahaman dan pendalaman akan isi kandungan bathin Al-Qur’an. Sehingga memungkinkan Sang Hamba (Abd) memperoleh secara langsung karakter religius dari kitab suci Al-Qur’an  melalui pendekatan empiris dan sekaligus merupakan suatu bukti yang solid akan realitas dunia ruh serta dunia yang transenden.

Kenaikan (mi’raj) menuju Allah dari Sang Hamba (Abd) ini, akan melalui cinta (Isyq), kerinduan (Syawq) dan ketakjuban (Hayrah), sehingga dirinya selalu berada di hadapan Tuhan. Didalam Tuhan dan bersama Tuhan. Oleh karenanya, seorang Hamba (Abd) yang tengah membaca kitab suci Al-Qur’an ia akan tenggelam dalam ekstase spiritual dan mengalami keadaan meditasi diluar meditasi.

Seseorang Hamba (Abd) pada tahap tingkatan ini (Hijab Al-Aql) harus benar – benar menyerahkan seluruh jiwanya kepada Tuhan, agar terbebas dari hawa nafsu. Dan hal ini tentu saja tidak akan tercapai kecuali dengan tekad yang paling kuat menuju Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (Al-Rahmanu-Al-Rahiimu) untuk mendapatkan cahaya kedamaian sebagaimana yang diperoleh dari kesucian dan keikhlasan ibadah, serta keyakinan diri yang mutlak akan isi Al-Qur’an dengan secara utuh.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

Artinya :

“Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah) (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur’an itu terbagi-bagi Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS 15 : 90 s.d. 94).

Tingkatan ke 6 dalam Hijab Hiqmah Al-Qur’an adalah : Hijab Al-Jamal (Tirai Keindahan) yang merupakan kunci pembuka khazanah kebenaran Ilahi atas suatu keindahan yang meliputi sifat Rahmat dan Kemurahan (Al-Thaf) dari kehadiran Ilahi. Dalam tingkatan ini (Hijab Al-Jamal), hati (Qalb) seorang Hamba (Abd) akan diliputi oleh keindahan (Jamal) dan keakraban (Uns) dirinya dengan Allah Ta’ala, ketika ia lebur dalam isi kandungan bathin Al-Qur’an . sehingga memungkinkan diri Sang Hamba (Abd) akan ditampakkan ribuan kehalusan (Latha’if) dalam hidup dan kehidupannya.

Hijab Al-Jamal (Tirai Keindahan) akan membantu seorang Hamba (Abd) memahami dirinya dan menyuarakan misteri – misteri keindahan bersamanya, serta membuatnya mampu mendengarkan percakapan cinta Ilahi. Sehingga pada saat dirinya terpesona dalam penyaksian spiritual melalui keindahan inilah, seolah dirinya mampu mendengarkan Agungnya kata-kata dari langit barakah dalam dimensi ruh rasional. Dan ia akan tenggelam dalam keindahan Tuhan.

Pada dasarnya, tingkatan Hijab Al-Jamal (Tirai Keindahan) ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari diri seorang Hamba (Abd), hingga membuat dirinya lebur (Fana) dalam subsistensi. Namun, ketika pembacaan ayat – ayat suci Al-Qur’an mengalir melalui lisannya, maka peleburan (Fana) subsistensi dirinya akan mengalami perubahan dan menjadi suatu ketenangan, yang akan mengantarkannya kedalam rahasia dibalik Alam yang tak terlihat.

Sehingga tidak akan ada lagi keraguan dan pengingkaran didalam hati (Qalb) serta fikiran (Fikr)nya tentang isi kandungan bathin Al-Qur’an yang memiliki kemuliaan itu. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

Artinya :

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik, ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih. Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Qur’an) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.”  (QS. 41 : 40 s.d. 44)

Tingkat ke 7 atau terakhir dalam Hijab Hiqmah Al-Qur’an adalah : Hijab Al-Muhaqqiqin (Tirai Kaum Penegas Kebenaran) adalah merupakan salah satu aspek yang sangat esensial dalam hubungannya dengan spiritualitas Islam, karena mereka (Kaum Penegas Kebenaran) merupakan golongan para wali Allah yang memiliki tingkatan tertinggi diantara para wali Allah lainnya (wali Abdal).

Oleh sebab itu, Tirai Al-Muhaqqiqin (Tirai Kaum Penegas Kebenaran) dapatlah dikatakan sebagai gema panggilan Tuhan kepada Manusia untuk kembali kepada-Nya. Dan juga sebagai sarana bagi manusia untuk kembali ke sumber spiritualnya.

Para Kaum Penegas Kebenaran, dalam Hijab Hiqmah Al-Qur’an memiliki prinsip tersendiri untuk membenarkan (tahaqqiq) dan menyadari (tahaqquq) segala sesuatu memiliki kebenaran (al-Haqq) dan hakikat (al-Haqiqah). Begitu pula halnya pemahaman mereka terhadap kitab suci Al-Qur’an yang mereka dapatkan atau mereka peroleh dari eksistensi dan kekuatan yang memberi  mereka kehidupan.

Hal ini dikarenakan, bagi mereka Al-Qur’an merupakan rambu jalan (Thariqah) dalam menuju Allah SWT. Dan hanya orang – orang yang tulus ikhlas saja, yang dapat melaksanakan disiplin spiritual untuk dapat melintasi jalan (Thariqah) itu.

Sementara, untuk yang lainnya, mereka akan meremehkan jalan (Thariqah) yang tidak akan mereka ikuti, karena menafikan atau mengingkari sesuatu yang benar (Al-Haqq) dari berbagai karunia Allah Ta’ala. Sehingga memungkinkan para Kaum Penegas Kebenaran (Al-Muhaqqiqin) membuka selubung dunia spiritual.

Namun, karena mereka tinggal didunia bentuk (Material), dan pada awal perjalanan spiritualnya tidak terlepas dari diri mereka, maka dengan menggunakan dunia bentuk sedemikian rupa, Tirai Hijab Hiqmah Al-Qur’an inilah yang akan dapat membawa mereka melintasi horison esoterisme untuk mengekspresikan Rahasia Perjanjian Primordial (Al-Fithrah) antara Tuhan dan Manusia (Asrar’i – Al-Ast), sehingga tidak ada keraguan dihati mereka untuk meyakini dan membenarkan serta menjalani ketentuan – ketentuan yang terdapat dalam rukun Iman, dengan hati yang Ikhlas karena Allah SWT semata. Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman :

Artinya :

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. 2 : 285)

Terdapat hubungan yang Khas antara spiritualitas Islam dan Hijab Hiqmah Al-Qur’an, yakni : sebuah hubungan yang muncul dari pemikiran tentang keEsaan dan intelektual (Al-Aql) pada satu sisi dan nature primordial dari spiritualitas Islam pada sisi lainnya.

Namun, yang perlu ditegaskan disini adalah, bahwa Hijab Hiqmah Al-Qur’an, yang sebagian besar berasal dari sumber – sumber klasik yang dapat berintegrasi dengan esoterisme spiritualisme Islam, yang akhirnya menjadi sarana untuk menciptakan rasa kesucian melalui pembacaan ayat – ayat suci Al-Qur’an. Sehingga memungkinkan seorang muslim lebur (Fana) dalam subsistensi diri, dan memunculkan pemikiran religius melalui suatu keyakinan yang hakiki, bahwa Al-Qur’an itu bukanlah sekadar bacaan biasa.

Sumber : www.lismansd.rimbawan.com

3 Balasan ke HIJAB HIQMAH AL QUR’AN

  1. andi mengatakan:

    sesungguhnya mk (mahesa kurung)tidaklah sesat karena ajaranya menurut syariat islam

  2. ujangmaulana mengatakan:

    betul sekali, terima kasih telah mengomentari blog ini. silakan kunjungi website resmi MK Al Mukarramah: http://www.mkbogor.blogspot.com

  3. senoize ( suseno ) mengatakan:

    saya juga mendukung kalo ajaran MK tidak sesat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: